Dua Dosen Muda UI Lulus Science Leadership Collaborative | Hallo Kampus

Avatar photo

- Editor

Selasa, 4 April 2023 - 15:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

[ad_1]

DUA DOSEN MUDA UI LULUS SCIENCE LEADERSHIP COLLABORATIVE, PROGRAM KEPEMIMPINAN ILMUAN KELAS DUNIA

Dua dosen muda Universitas Indonesia (UI) masuk dalam 27 peneliti Indonesia yang berhasil lulus dari Science Leadership Collaborative (SLC), yaitu program pengembangan kepemimpinan ilmuwan kelas dunia. Mereka adalah dosen Fakultas Teknik (FT), Dr. Dipl.-Ing. Nuraziz Handika, S.T., M.T., M.Sc., dan dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Krisna Puji Rahmayanti, S.I.A., M.P.A., Ph.D. Kelulusan keduanya dikukuhkan pada Jumat (17/03) lalu, di Ungasan, Bali.

SLC adalah program pengembangan kapasitas yang dirancang oleh The Conversation Indonesia bersama sejumlah ahli kepemimpinan dari Amerika, Eropa, dan Asia untuk mengembangkan peneliti Indonesia menjadi pemimpin sains di masa depan. Program ini diselenggarakan pertama kali pada 2022/2023 dan dirancang berdasarkan studi yang dilakukan pada 2021. Para peserta kegiatan ini merupakan early-to-mid-career researchers dari perguruan tinggi, lembaga riset, non-governmental organization (NGO), dan start-up dengan keilmuan dan keahlian beragam.

Kegiatan pelatihan ini diawali dengan self leadingleading the system, hingga innovation sprintImmunity to Change adalah bagian yang menarik sebelum memasuki Innovation Project Sprint karena peserta tidak hanya digali potensinya, tetapi juga digali hal-hal yang menghambat diri untuk berkembang. Selanjutnya, di bagian Innovation Project Sprint, peserta diminta mengangkat masalah yang terkait penelitian dan mencari solusinya melalui berbagai ide inovasi.

Selama 9 bulan, para peserta menjalani program intensif berupa seminar dan lokakarya, mentoring1-on-1 coachingpeer learning, dan pembelajaran melalui learning machine system untuk menggali potensi dan kapasitas mereka sebagai pemimpin sains. Dr. Aziz lulus setelah mengembangkan proyek “How to Preserve Human’s Life and to Assure Safety & Performance of Earthquake-Resistant Building in A Ring of Fire Country (Indonesia)?”, sedangkan Krisna berhasil menyelesaikan penelitian bertema “Increasing Community Resilience Collaboratively in Pacitan Regency”.

Menurut Dr. Aziz, inovasi yang dihasilkannya terinspirasi dari kegiatan survei lapangan atas bangunan sederhana 1–2 lantai (perumahan) pascagempa Lombok 2018, Palu 2018, dan Cianjur 2022. Saat itu, ia bersama tim dari laboratorium Struktur dan Material Departemen Teknik Sipil FTUI melihat kerusakan yang terjadi pada bangunan sederhana. Istilah nirr-rekayasa atau non-engineered adalah kategori dari bangunan tipe ini. Dari hasil survei, disimpulkan bahwa kerusakan yang terjadi dapat dihindari jika mengikuti standar pembuatan rumah sederhana yang dikeluarkan oleh Kementerian PUPR atau panduan yang dibuat dosen Teknik Sipil FTUI yang sudah pensiun, (Alm.) Teddy Boen.

Dr. Dipl.-Ing. Nuraziz Handika, S.T., M.T., M.Sc

“Secara teknis, dokumen ada. Hanya saja, mungkin sebagian besar dari kita tidak menjumpainya. Di DKI Jakarta, disyaratkan untuk membuat Izin Mendirikan Bangunan (IMB), juga terdapat arahan untuk membuat bangunan sederhana tersebut. Sementara itu, untuk bangunan 8 lantai ke atas, kita sudah menyadari adanya standar khusus untuk bangunan tahan gempa,” ujar Dr. Aziz.

Ia berharap inovasi ini dapat meningkatkan awareness masyarakat, terutama saat membangun rumah. Pihak pembangun (kontraktor dan tukang) serta pemilik rumah harus menyadari kondisi bangunan yang baik. Dengan mengacu standar hasil penelitian, diharapkan korban jiwa yang mungkin ada akibat bencana gempa dapat dikurangi. Selain itu, kolaborasi dengan bidang lain, baik itu komunikasi, psikologi, dan sebagainya juga diperlukan untuk mempermudah sampainya pesan kepada masyarakat.

Sementara itu, Krisna menilai bahwa kolaborasi dalam kegiatan ini terlihat dari interaksi antarpeneliti dengan para coach dan mentor dari berbagai negara. Ia bersama Prof. Deden Rukmana, diaspora Indonesia sekaligus Chair of the Department of Community and Regional Planning at Alabama A&M University, menyusun riset terkait partisipasi publik dalam rekonstruksi rumah pascabencana. Ide ini telah disampaikan ke sejumlah stakeholder, yaitu perwakilan komunitas dan lembaga pemerintah di Kabupaten Pacitan.

“Saya berharap ada kelanjutan dari program ini dan lebih banyak peneliti muda Indonesia ikut terlibat sehingga memperluas wawasan dan kolaborasi dengan peneliti dari multidisiplin ilmu. Pengalaman selama kegiatan ini menjadi bekal untuk menjadi periset yang tidak hanya ada di menara gading, tetapi juga bisa menghasilkan riset yang berdampak,” kata Krisna.

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (2008–2018) yang merupakan salah satu panelis dalam acara tersebut, Prof. Sangkot Marzuki, dan Guru Besar UI, Prof. Jatna Supriatna, turut mengapresiasi prestasi ini. Dalam pidato pengukuhan kelulusan para peneliti, Prof. Jatna menyebut bahwa angkatan ini adalah pionir. Ia berharap para lulusan tidak hanya mampu berkolaborasi, tetapi juga menjadi ilmuwan yang matang.

Penulis: Sasa

Artikel Dua Dosen Muda UI Lulus Science Leadership Collaborative pertama kali tampil pada Universitas Indonesia.

[ad_2]

Berita Terkait

FOMO dan Bahaya Narkoba: Materi Penyuluhan dari YR KOBRA JATIM
Muda-Mudi Fest Bekasi 2023: Festival Musik yang Wajib Kamu Saksikan!
Elit Politik PDI Perjuangan akan Berkunjung ke Kantor DPP PAN Sebagai Tindak Lanjut Pertemuan Politik Antar Partai
Tingkatkan Atmosfer Akademik, ITB Laksanakan Program TPB di Kampus Jatinangor | Hallo Kampus
Universitas Jember Jajagi Kerjasama Dengan PT. Syngenta Indonesia – Universitas Jember | Hallo Kampus
Cita-Cita Naik Haji? Nabung sejak Dini!
17.216 Peserta Akan Mengikuti UTBK di ITB | Hallo Kampus
FOMO Sapiens : Dari Met Gala Hingga Perkara Kebebasan Pers
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Senin, 30 Oktober 2023 - 10:53 WIB

Pemuda Indonesia Berburu Sejarah Lewat Konten Video di ‘Historical Hunt of Indonesia

Jumat, 22 September 2023 - 18:01 WIB

Merajut Kesatuan: Nahdlatul Aulia Gelar Istighotsah untuk Keselamatan NKRI

Senin, 31 Juli 2023 - 11:12 WIB

Babak Belur Dihakimi Massa, 2 Pelaku Pencurian Kendaraan Bermotor yang Bawa Senjata Api Rakitan

Berita Terbaru